Minggu, 04 Maret 2012

Analisis kualitatif anion dan kation


Analisis Kualitatif Anion Dan Kation
     Analisis Kualitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia mengenali unsur atau senyawa apa yang ada dalam suatu sampel umumnya dalam kuliah kimia. para mahasiswa pertama kali dihadapkan dengan analisis kualitatif ketika sejumlahh unsur dipisahkan dan di identifikasi melalui pengendapan dengan hidrogen sulfida.produk-produk organik yang di sintesis dalam laboratorium biasa diidentifikasi dengan menggunakan teknik-teknik instrumentasi seperti spektroskopi inframerah dan resonansi magnetik  nukir.
Analisis kualitatif atau disebut juga analisis jenis adalah suatu cara yang dilakukan untuk menentukan macam, jenis zat atau komponen-komponen bahan yang dianalisis. Dalam melakukan analisis kualitatif yang dipergunakan adalah sifat-sifat zat atau bahan, baik sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimianya. Misalnya ada suatu sampel cairan dalam gelas kimia, bila ingin mengetahui tentang kandungan sampel cair itu maka yang harus dilakukan adalah menganalisis kualitatif terhadap sampel cairan itu.
Tujuan analisis kualitatif adalah untuk memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur. Analisis kuantitatif berhubungan dengan penetapan banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Analisis kualitatif diperuntukkan untuk analisa komponen atau jenis zat yang ada dalam suatu larutan. Analisis kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan.
Analisis kualitatif kation dan anion secara sistematis telah berkembang cukup lama. Berkat kajian yang dilakukan oleh Karl Remegius Fresenius sejak tahun 1840, yang kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1897. Langkah-langkah analisis kation dan anion dapat dilakukan secara sistematis melalui diagram alir, yang sampai saat ini menjadi standar untuk kajian analisis kuantitatif bahan anorganik.
Analisis kation dan anion sering kali dapat dibantu oleh diagram alir, yang menggambarkan langkah-langkah sistematis untuk mengidentifikasi jenis anion dan kation. Diagram alir untuk analisis kation lebih sistematis dibandingkan dengan diagram alir anion. Dalam diagram alir analisis kuantitatif kation dan anion dimulai dari ion yang dinyatakan, pereaksi yang perlu ditambahkan, kondisi eksperimen dan rumus kimia produk yang dihasilkan. Gambar umum yang biasa digunakan adalah aliran ke bawah, yang endapannya dituliskan di sebelah kiri, sedangkan larutannya dituliskan di sebelah kanan.
Menentukan adanya kation dan anion dalam suatu analisis, baik yang terdiri dari zat tunggal (satu kation dan satu anion) atau zat majemuk atau campuran (lebih dari kation dan anion) memerlukan sistematika tertentu. Apabila analisis berupa larutan dapat langsung dianalisis, tetapi apabila berupa zat padat atau campuran padat atau cair maka perlu dicari pelarut yang sesuai.
Harus disadari bahwa cara yang dilakukan untuk melakukan analisa kualitatif yang cepat dan tepat diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai sifat fisis bahan-bahan yang dianalisa, seperti misalnya warna, bau, warna nyala, titik leleh, bentuk kristal, serta kelarutannya. Pengetahuan ini sangat diperlukan dalam menarik kesimpulan yang tepat.
Berdasarkan metodenya, analisa kualitatif dapat dikelompokkan dalam dua kelompok. Pertama, analis bahan berdasarkan karakterisasi fisis, yaitu penentuan sifat fisis dan kesamaan. Kedua, analisis bahan berdasarkan metode H2S, yaitu analisis kation dan analisis anion.
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum, adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan ammonium karbonat. Secara sistematik cara analisis kation-kation diklasifikasikan dalam 5 golongan, hal ini didasarkan pada sifat kation tersebut terhadap beberapa pereaksi tertentu membentuk endapan atau tidak, dengan kata lain klasifikasi kation yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat dari kation tersebut. Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu golongan.
Di dalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya :
  1. Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg. Dalam suasana asam, klorida dan kation dari golongan lain larut. Penggunaan asam klorida berlebih untuk pengendapkan kation golongan I memiliki dua keuntungan yaitu memperoleh endapan klorida semaksimal mungkin dan menghindari terbenuknya endapan BIOCI dan SbOCI. Kelebihan asam klorida yang terlalu banyak dapat menyebabkan AgCl dan PbCl 2 larut kembali dalam bentuk kompleks sedangkan klorida raksa (I), Hg, Cl2 , tetap stabil.
  2. Golongan II : Kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion golongan ini adalah Hg, Bi, Cu, cd, As, Sb, Sn. Kation golongan II dibagi dalam dua sub-golongan yaitu sub golongan tembaga dan sub golongan arsenik. Dasar dari pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida dalam ammonium polisulfida. Sementara sulfida dari sub golongan tembaga tidak larut dalam regensia ini, sulfida dari sub grup arsenik melarut dengan membentuk garam tio. Golongtan II sering disebut juga sebagai asam hidrogen sulfida atau glongan tembaga timah. Klorida, nitrat, dan sulfat sangat mudah larut dalam air. Sedangkan sulfida, hidroksida dan karbonatnya tak larut. Beberapa kation dari sub golongan tembaga (merkurium (II), tembaga (II), dan kadmium (II)) cenderung membentuk kompleks (ammonia, ion sianida, dan seterusnya).
  3. Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer (buffer ammonium-amonium klorida). Namun kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral / amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr, Co, Mn, Zn. Logam-logam diendapkan sebagai sulfida, kecuali aluminium dan kromium, yang diendapkan sebagai hidroksida, karena hidrolisis yang sempurna dari sulfida dalam larutan air.besi, almunium, dan mangan (sering disertai sedikit mangan) atau golongan IIIA juga diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan amonia dengan adanya amonium klorida. Endapan hidroksida pada golongan ini bermacam-macam. Kation golongan IIIB diendapkan sebagai garam sulfidnya dengan mengalirkan gas H2S dalam larutan analit yang suasananya basa (dengan larutan buffer NH4Cl dan NH4OH).
  4. Golongan IV : Kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III. Kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba, Ca, Sr.
  5. Golongan V : Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan regensia-regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir. Kation golongan ini meliputi : Mg, K, NH4+. Untuk menentukan adanya kation NH4+ harus diambil dari larutan analit mula-mula. Untuk kotion-kation Ca2+, Ba2+, Sr2+, Na+, dan K+. Identifikasi dapat dilakukan dengan uji nyala.
Cara pengenalan anion dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu berdasarkan Bunsen, Gilreath dan Vogel. Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam bariumnya, warna, kelarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. Gilreath menggolongkan anion berdasarkan pada kelarutan garam kalsium, barium, cadmium dan garam peraknya. Sedangkan Vogel menggolongkan anion berdasarkan pada proses yang digunakannya, yaitu pemeriksaan anion yang dapat menguap bila diolah dengan asam, dan pemeriksaan anion berdasarkan reaksinya dalam larutan.
Analisis kuantitatif sebagian besar didasarkan pada kesetimbangan untuk memisahkan dan megidntifikasi ion yang sejenis. Kesetimbangan asam basa, kesetimbangan heterogen, kesetimbangan redoks dan kesetimbangan ion kompleks merupakan jenis-jenis kesetimbangan yang digunakan dalam analisis kualitatif anion.
  1. Sifat-sifat asam basa
Garam-garam larut dalam air yang mengandung kation basa kuat bila berkombinasi dengan anion dariasam lemah menghasilkan larutan yang bersifat basa. Misalnya anion S2-, PO43-, dan CO32- adalah basa Bronsted-Lowry yang kuat. Garam yang berasal dari anion ini dengan kation seperti K+ bereaksi dengan air dan menghasilkan larutan yang bersifat basa. Misalnya:
S2- + H2O è HS- + OH-
  1. Sifat redoks
Kelompok anion, sebagian bersifat sebagai oksidator, sebagian reduktor, sebagian lain sifat oksidator reduktornya tergantung dalam suasana larutannya. NO3- dan CrO42- merupakan oksidator kuat dalam suasana larutan asam. Anion I-, S2- dan SO3- merupakan reduktor dalam suasana asam.
I2(s) + 2 e è 2 I- E0 = 0.536 V
S(s) + 2 H+ + 2 e è H2S(aq) E0 = 0.142 V
SO42- + 4 H+ + 2 e è H2SO3(aq) + H2O(l) E0 = 0.172 V
  1. Kesetimbangan kelarutan
Reaksi pengendapan mengandung nilai yang sangat berarti bagi analisis anion. Beberapa reaksi anion dengan ion barium, Ba2+ yang digunakan sebagai uji spesifik dari anion tertentu didasarkan pada nilai kelarutannya. Demikian pula dengan reaksi pengendapan anion dengan menggunakan ion Ag+ merupakan bagian penting dari uji analisis anion.
Ion sulfit, karbonat, kromat, fosfat dan sulfat, bila direaksikan dengan Ba2+ akan menghasilkan garam barium yang hanya sedikit larut dalam air, yang ditunjukkan dengan kecilnya nilai Ksp.
Untuk anion dikelompokkan ke dalam beberapa kelas diantaranya :
  • Anion sederhana seperti : O2-, F-, atau CN- .
  • Anion okso diskret seperti : NO3-, atau SO42-.
  • Anion polimer okso seperti silikat, borat, atau fosfat terkondensasi
  • Anion kompleks halida seperti TaF6.
  • Kompleks anion yang berbasis bangat seperti oksalat.









Selasa, 28 Februari 2012

angka penting dan angka ketidak pastian


Angka Penting Dan Angka Pasti
Angka Penting
Angka penting disebut juga angka berarti atau angka signifikan,yaitu angka yang menunjukkan ketelitian atau ketidakpastian alat ukur yang digunakan. Aangka penting pasti diproleh dari hasil pengukuran. Angka yang bukan berasal  dari hasil pengukuran disebut angka eksak,misalnya jumlah siswa dalam 1kelas 30 orang.
Semakin banyak angka penting dalam suatu hasil pengukuran,semakin telitilah alat ukurnya. contoh panjang rusuk kubus menurut jangka sorong adalah 13,4 mm dan menurut mikrometer sekrup 13,45 terdiri atas 4 angka penting .ketelitian jangka sorong lebih redah dibandingkan ketelitian mikrometer sekrup.
            Angka penting terdiri dari angka pasti dan angka taksiran (angka perkiraan atau angka yang diragukan). misalnya pada pembacaan panjang rusuk kubus dengan menggunakan mistar diproleh angka 13,4 cm. angka 1 dan 3 adalah angka pasti karena jelas terdapat pada skla.angka 4 diproleh dari perkiraan atau angka diragukan. angka perkiraan selalu berada pada posisi terakhir atau diberi tanda khusus (misalnya garis bawah atau dicetak tebal). di belakang angka perkiraan  bukan angka penting lagi dan tidak mempunyai arti.
A. Pengertian Angka Penting (Significant Figures)
          Mengukur sangat berbeda dengan menghitung, walupun keduanya mengaitkan angka-angka dengan suatu benda. Kita dapat menghitung jumlah lembaran buku secara pasti. Akan tetapi, pengukuran selalu memiliki ketidakpastian. Misalnya ketebalan kertas yang diukur dengan menggunakan micrometer sekrup. Tinggi benda yang diukur dengan menggunakan meteran. Diameter tabung yang diukur dengan menggunakan jangka sorong. Massa benda yang diukur menggunakan neraca atau timbangan. Suhu yang diukur dengan menggunakan termometer. Kuat arus yang diukur menggunakan amperemeter
          Bila kita mengukur panjang suatu benda dengan mistar berskala mm (mempunyai batas ketelitian 0,5 mm) dan melaporkan hasilnya dalam 4 angka penting, yaitu 114,5 mm. Jika panjang benda tersebut kita ukur dengan jangka sorong (jangka sorong mempunyai batas ketelitian 0,1 mm) maka hasilnya dilaporkan dalam 5 angka penting, misalnya 114,40 mm, dan jika diukur dengan mikrometer sekrup (Mikrometer sekrup mempunyai batas ketelitian 0,01 mm) maka hasilnya dilaporkan dalam 6 angka penting, misalnya 113,390 mm. Ini menunjukkan bahwa banyak angka penting yang dilaporkan sebagai hasil pengukuran mencerminkan ketelitian suatu pengukuran. Makin banyak angka penting yang dapat dilaporkan, makin teliti pengukuran tersebut. Semakin besar tingkat ketelitian alat ukur, maka semakin kecil tingkat ketidakpastian dalam pengukuran. Tentu saja pengukuran panjang dengan mikrometer sekrup lebih teliti dari jangka sorong dan mistar.
Pada hasil pengukuran mistar tadi dinyatakan dalam bilangan penting yang mengandung 4 angka penting : 114,5 mm. Tiga angka pertama, yaitu: 1, 1, dan 4 adalah angka eksak/pasti karena dapat dibaca pada skala, sedangkan satu angka terakhir, yaitu 5 adalah angka taksiran karena angka ini tidak bisa dibaca pada skala, tetapi hanya ditaksir.
          Jadi, angka penting adalah bilangan yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan alat ukur, yang terdiri dari angka-angka penting yang sudah pasti (terbaca pada alat ukur) dan satu angka terakhir yang ditafsir atau diragukan.       
          Sedangkan angka hasil perhitungan, bukan termasuk angka penting. Sebagai contoh jumlah mahasiswa Pendidikan Fisika kelas A 09, Unimed adalah 50 orang. Maka angka 50 tidak memiliki angka penting, karena angka 50 merupakan angka hasil menghitung, bukan angka hasil mengukur.           
          Jadi, angka eksak/pasti adalah angka yang sudah pasti (tidak diragukan nilainya), yang diperoleh dari kegiatan membilang  (menghitung).
B. Aturan Angka Penting                                                                               
  Tujuan dari pengukuran adalah menunjukkan hasil pengukuran tersebut pada orang lain sehingga orang tersebut mengerti dan paham. Untuk itu diperlukan suatu aturan agar penyajian hasil pengukuran tersebut mudah dipahami dan tetap memberikan keakuratan yang dibutuhkan. Aturan yang dimaksud di atas adalah aturan angka penting. Berikut aturan angka penting :
1.     Semua angka yang bukan nol adalah angka penting,
      Contoh : Hasil pengukuran  65,89 cm  (4 angka penting)                       

2.    
Angka nol yang terletak di antara angka bukan nol adalah angka penting.  
      Contoh : 1,002         (4 angka penting)                                                                      
3.     Angka nol di sebelah kanan tanda desimal dan tidak diapit angka bukan nol bukan angka penting,
       Contoh : 25,00   (2 angka penting)
                   25,000  (2 angka penting)
                   2500    (4 angka penting, mengapa ? sebab tidak ada tanda  desimalnya)                                     4.     Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya yang  memiliki angka-angka nol pada deretan akhir harus dituliskan dalam   notasi ilmiah agar jelas apakah angka-angka nol tersebut adalah angka penting atau bukan.                                                 
          Contoh :                                                             
Angka
Jumlah Angka Penting
0,00342
3
342
3
340
2 atau 3
  Angka terakhir pada contoh di atas bersifat ambigu. Untuk   menghilangkan sifat ambigu, notasi ilmiah harus dipakai.
Angka
Jumlah Angka Penting
3,42 x 10-3
3
3,42 x 102
3
3,40 x 102
3
3,4 x 102
2
5.     Semua angka sebelum orde (Pada notasi ilmiah) termasuk angka penting. Contoh : 3,2 x 105 memiliki dua angka penting, yakni 3 dan 2. 4,50 x 103 memiliki tiga angka penting, yakni 4, 5 dan 0.                      
6.    
Angka nol yang berada di belakang angka bukan nol, bukan termasuk angka penting kecuali setelah ditentukan letak desimalnya. Misalnya angka 12500, harus diubah dulu menjadi 1,25 x 104 berarti memiliki 3 angka penting. Jika kita mengubahnya menjadi 1,250 x 104 berarti terdapat 4 angka penting,
7.     Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol atau setelah   tanda desimal bukan angka penting.
     Contoh : 0,00556         = 3 angka penting
                   0,00006500  = 4 angka penting
8.     Batasan jumlah angka penting bergantung dengan tanda yang diberikan pada urutan angka dimaksud.  Dengan kata lain, Angka nol pada deretan akhir sebuah bilangan   termasuk angka penting, kecuali kalau angka sebelum nol diberi garis bawah.        
Contoh: 1500 ton (memiliki 4 angka penting) tapi kalau ada garis bawah di angka 0 pertama maka angka pentingnya jadi 3.
CONTOH SOAL :          
Hitunglah jumlah angka penting pada angka-angka dibawah ini.
1.     1,0050
2.     23,4000
3.     0,010025
4.     13,000124
5.     4500
6.     1,2 x 105
7.     1,20 x 103
Jawaban dari soal diatas adalah
1.     5 angka penting yakni 1, 0, 0, 5, 0
2.     6 angka penting yakni 2, 3, 4, 0, 0, 0
3.     5 angka penting yakni 1, 0, 0, 2, 5 
4.     8 angka penting yakni 1, 3 ,0, 0, 0, 1, 2, 4
5.     4500 harus diubah dulu menjadi bentuk baku 4,5 x 103 jadi ada 2  angka penting yakni 4, 5 namun jika kita mengubahnya menjadi 4,50 x 103 maka ada 3 angka penting yakni 4, 5, 0
6.     2 angka penting yakni 1, 2
7.     3 angka penting yakni 1, 2, 0 

Dua poin penting yang harus dibuat tentang angka penting:
1.Definisi eksak mempunyai jumlah tak terdefinisi angka penting.  Contoh, satu inch terdefinisi dengan  pasti 2,54 centimeter, 1,000000+      inch = 2,54000000+ centimeter di mana tanda”+” mengindikasikan ada         jumlah tak terdefinisi angka nol. Secara umum nol tidak akan ditulis.
2.Angka-angka yang dihasilkan dari hubungan matematika eksak     mempunyai jumlah tak terdefinisi angka penting.
Untuk mengatasi permasalahan jumlah angka penting yang tak terdefinisi, perlu dilakukan pembulatan angka.
Aturan Pembulatan
1.     Jika angka pertama setelah angka yang hendak dipertahankan adalah 4 atau lebih kecil, maka angka itu dan seluruh angka disebelah kanannya ditiadakan. Contoh (1) : 75,494 = 75,49 (angka 4 yang dicetak tebal ditiadakan). Contoh (2) : 1,00839 = 1,008 ( kedua angka yang dicetak tebal ditiadakan)
2.  Jika angka pertama setelah angka yang akan anda pertahankan adalah    5 atau lebih besar, maka angka tersebut dan seluruh angka di bagian   kanannya ditiadakan. Angka terakhir yang dipertahankan  bertambah  satu
Secara ringkas dapat disimpulkan :
       Membulatkan ke atas jika angka di belakang pemotongan di antara 5-9   Tidak dibulatkan ke atas jika angka di belakang pemotongan di antara          0-4
Hasil pada Kalkulator
Jumlah Angka Penting yang Dibutuhkan
Angka yang Dilaporkan
5.937.458
3
5.940.000
0,23946
3
0,239
0,23956
3
0,240

Contoh (1) 1,037878 = 1,038 (ketiga angka yang diberi garis bawah dihilangkan, sedangkan angka 7 yang dicetak tebal, dibulatkan menjadi 8). 
Contoh (2) 28,02500 = 28,03 (ketiga angka yang diberi garis bawah ditiadakan. Angka 2 yang dicetak tebal diubah menjadi 3).             
Contoh (3) : 12,897 = 12,90 (angka 7 yang diberi garis bawah ditiadakan. Angka 8 dan 9 yang dicetak tebal diubah menjadi 90.
C. Operasi Angka Penting 
Operasi angka penting yang akan kita bahas adalah penjumlahan dan pengurangan, perkalian dan pembagian, serta pengkuadratan dan pengakaran.
1.     Penjumlahan angka penting dan Pengurangan angka penting
Perlu diingat bahwa, penjumlahan atau pengurangan angka penting akan menghasilkan angka penting yang memiliki satu angka taksiran. Terlebih dahulu kita harus paham tentang angka taksiran, angka taksiran adalah angka yang hasilnya tidak pasti. Misalnya ketika anda mengukur panjang paku menggunakan penggaris, anda mendapatkan angka 5,6 cm lebih sedikit. Nah kemudian anda menerka-nerka sendiri angka lebih sedikit tersebut sehingga menjadi 5,64 cm. Berarti angka 4 adalah angka taksiran.
Prosedur yang benar untuk penjumlahan / penguranngan angka penting :
     1. Meratakan poin decimal                                
     2. Menandai angka penting terakhir setiap nomor dengan tanda panah       
     3. Mengkalkulasikan jawaban                                                 
     4. Tanda panah paling jauh ke kiri dari angka penting terakhir jawaban
Penjumlahan Angka Penting :
Contoh 1 :
 5,64     (angka 4 adalah angka taksiran)
 1,3  +  (angka 3 adalah angka taksiran)
 6,94    (ada dua angka taksiran yakni, angka 9 dan angka 4)
Padahal hasil penjumlahan harus berisi satu angka taksiran. Jadi angka 4 harus dibulatkan, sehingga hasil penjumlahan menjadi 6,9.
Contoh 2 :
Jumlahkan 273,219 g; 15,5 g; dan 8,43 g (jumlahkan seperti biasa, selanjutnya bulatkan hasilnya hingga hanya terdapat satu angka taksiran)



Angka 4 dan 9 ditiadakan. Hasilnya = 297,1

Pengurangan Angka Penting
2,864    (angka 4 adalah angka taksiran)
1,2   -    (angka 2 adalah angka taksiran)
1,664    (angka 6 dan angka 4 adalah angka taksiran)

Karena hasil pengurangan harus mengandung satu angka taksiran maka hasil pengurangan menjadi 1,7.
2. Perkalian angka penting dan pembagian angka penting
          Pada operasi perkalian atau pembagian, hasil yang diperoleh hanya boleh memiliki jumlah angka penting sebanyak bilangan yang angka pentingnya paling sedikit.
          Hasil perkalian atau pembagian antara bilangan penting dengan bilangan eksak/pasti hanya boleh memiliki angka penting sebanyak jumlah angka penting pada bilangan penting
Prosedur yang benar untuk perkalian / pembagian angka penting :
1. Mengindikasikan jumlah angka penting untuk setiap angka 
2. Mengkalkulasikan jawaban                                             
3. Membulatkan jawaban agar mempunyai jumlah angka penting yang sama seperti angka dengan jumlah angka penting terkecil  5,0 x 10,624 = 53,120 menjadi 53 

Perkalian Angka Penting
Contoh 1 : 
1,253    (mengandung 4 angka penting)
1,1   x   (mengandung 2 angka penting)
1,3783 (mengandung 5 angka penting)
Padahal hasil perkalian harus mengandung jumlah angka penting yang paling sedikit dari faktor pengali, dalam hal ini faktor pengali yang memiliki angka penting paling sedikit adalah 1.1 yakni memiliki 2 angka penting sehingga hasil perkalian harus mengandung 2 angka penting. Maka hasil perkalian menjadi 1,4.
Contoh 2 :
Hitunglah operasi perkalian berikut ini : 0,6283 x 2,2 cm
(petunjuk : lakukanlah prosedur perkalian atau pembagian dengan cara biasa. Kemudian bulatkan hasilnya hinga memiliki angka penting sebanyak salah satu bilangan yang memiliki angka penting paling sedikit)
Hasilnya dibulatkan menjadi 1,4 cm2 (dua angka penting)
Contoh 3 :
Hitunglah operasi perkalian berikut ini : 25 x 8,95
Hasilnya dibulatkan menjadi 224 cm (tiga angka penting) agar sama dengan banyak angka penting pada bilangan penting 8,95
Contoh 4 :
3,4 x 6,7 = … ?
Jumlah angka penting paling sedikit adalah dua (3,4 dan 6,7 mempunyai dua angka penting)
Hasil perkaliannya adalah 22,78. Hasil ini harus dibulatkan menjadi 23 (dua angka penting)
3,4 x 6,7 = 23

Contoh 5 :
2,5 x 3,2 = … ?
Jumlah angka penting paling sedikit adalah dua (2,5 dan 3,2 punya dua angka penting)
Jika kita hitung pakai kalkulator, hasilnya adalah 8. Harus ditambahkan nol.
2,5 x 3,2 = 8,0 (dua angka penting)

Contoh 6 :
1,0 x 2,0 = 2,0 (dua angka penting), bukan 2
Pembagian angka penting cara kerjanya sama dengan  perkalian angka penting.

Pembagian Angka Penting :
Contoh 1 :
2,0 : 3,0 = …. ?  (angka penting paling sedikit adalah dua)
Jika anda memakai kalkulator maka hasilnya adalah 0,66666666666666666 dan seterusnya… harus dibulatkan hingga hanya ada dua angka penting :
2,0 : 3,0 = 0,67 (dua angka  penting, yakni 6 dan 7)
Contoh 2 :
2,1 : 3,0 = …. ?  (angka penting paling sedikit adalah dua)
Jika anda memakai kalkulator maka hasilnya adalah 0,7… harus ditambahkan nol sehingga terdapat dua angka penting :
2,1 : 3,0 = 0,70 (dua angka  penting, yakni 7 dan 0)

3. Pengkuadratan angka penting dan pengakaran angka penting 
Hasil pengkuadratan angka penting harus mengandung jumlah angka penting yang sama dengan jumlah angka penting yang dikuadratkan. Demikian juga pada penarikan akar angka penting. Contoh mengkuadratkan angka penting.
(1,5)2  hasilnya adalah 2.3, kenapa? 1,5 jika dikuadratkan adalah 2,25 tetapi karena hasil pengkuadratan angka penting harus memiliki jumlah angka penting yang sama dengan jumlah angka penting bilangan yang dikuadratkan maka hasilnya menjadi 2,3


Angka Pasti

Angka Penting

“ Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran disebut ANGKA PENTING, terdiri atas angka-angka pasti dan angka-angka terakhir yang ditaksir ( Angka taksiran ). Hasil pengukuran dalam fisika tidak pernah eksak, selalu terjadi kesalahan pada waktu mengukurnya. Kesalahan ini dapat diperkecil dengan menggunakan alat ukur yang lebih teliti.
  1. Semua angka yang bukan nol adalah angka penting. Contoh : 14,256 ( 5 angka penting ).
  2. Semua angka nol yang terletak di antara angka-angka bukan nol adalah angka penting. Contoh : 7000,2003 ( 9 angka penting ).
  3. Semua angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir, tetapi terletak di depan tanda desimal adalah angka penting.Contoh : 70000, ( 5 angka penting).
  4. Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir dan di belakang tanda desimal adalah angka penting.Contoh : 23,50000 ( 7 angka penting ).
  5. Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir dan tidak dengan tanda desimal adalah angka tidak penting.Contoh : 3500000 ( 2 angka penting ).
  6. Angka nol yang terletak di depan angka bukan nol yang pertama adalah angka tidak penting.Contoh : 0,0000352 ( 3 angka penting ).
Ketentuan – Ketentuan Pada Operasi Angka Penting :
1. Hasil operasi penjumlahan dan pengurangan dengan angka-angka penting hanya boleh terdapat SATU ANGKA TAKSIRAN saja.
Contoh :  2,34       angka 4 taksiran
0,345 +  angka 5 taksiran
2,685      angka 8 dan 5 ( dua angka terakhir ) taksiran.
maka ditulis : 2,69
( Untuk penambahan/pengurangan perhatikan angka dibelakang koma yang paling sedikit).
13,46           angka 6 taksiran
2,2347 -  angka 7 taksiran
11,2253     angka 2, 5 dan 3 ( tiga angka terakhir ) taksiran
maka ditulis : 11,23
2. Angka penting pada hasil perkalian dan pembagian, sama banyaknya dengan angka penting yang paling sedikit.
Contoh :   8,141         ( empat angka penting )
0,22 x  ( dua angka penting )
1,79102
Penulisannya : 1,79102 ditulis 1,8 ( dua angka penting )
1,432          ( empat angka penting )
2,68 :         ( tiga angka penting )
0,53432
Penulisannya : 0,53432 di tulis 0,534 ( tiga angka penting )
3. Untuk angka 5 atau lebih dibulatkan ke atas, sedangkan angka kurang dari 5 dihilangkan.